Buruh Bangunan di Gowa Tewas Terjatuh dari Lantai 5 Proyek Sekolah
Divisi Meulaboh – Buruh Bangunan Seorang pekerja konstruksi berinisial DM (20 tahun) ditemukan tewas setelah terjatuh dari lantai 5 proyek pembangunan gedung sekolah Al‑Fityan School di Jalan Pallantikang, Kelurahan Tombolo, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Menurut laporan, kejadian berlangsung sekitar pukul 11.45 WITA saat DM berada sendirian di rooftop lantai 5 untuk membersihkan diri setelah bekerja.
Kronologi Singkat
Korban sedang melakukan pekerjaan plesteran tandon air di rooftop lantai 5 gedung sekolah tersebut.
Menjelang waktu istirahat, pekerja lain telah berhenti, namun DM memilih untuk tetap berada di lokasi untuk “cuci-cuci dulu”.
Saat sendirian, diduga korban terpeleset dan terjatuh dari ketinggian. Tidak ada saksi mata yang langsung melihat saat terjatuh.
Jenazah korban ditemukan di lorong bangunan sekolah dengan kondisi sudah tertutup kain, pihak kepolisian telah memasang garis polisi di lokasi.
Baca Juga: Diduga Korsleting Listrik, Rumah Semi Permanen Serta Mobil di Sidikalang Hangus Terbakar
Faktor Diduga Penyebab
Beberapa faktor yang menjadi dugaan awal dalam kasus ini antara lain:
Kondisi kerja di ketinggian (lantai 5) tanpa pendampingan langsung atau saksi saat kejadian.
Korban berada dalam kondisi sendirian saat insiden terjadi—menyulitkan pemantauan dan tindakan cepat jika terjadi kecelakaan.
Diduga terpeleset: pengawas proyek menyebut “terpeleset, kayanya terpeleset”.
Pekerjaan yang dilakukan berada di area terbuka (rooftop) dengan kemungkinan pengaman yang kurang memadai atau penggunaan alat pelindung diri (APD) yang tidak optimal.
Tanggapan dari Pengawas Proyek
Pengawas proyek Al-Fityan School, Taufik, menyebut bahwa pekerjaan sebenarnya dalam kondisi “sebenarnya aman”. Namun, saat kejadian korban memilih untuk tetap melakukan aktivitas tambahan (membersihkan diri) di area yang mungkin belum sepenuhnya aman.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun lingkungan kerja diklaim “aman”, dinamika pekerjaan di lapangan (seperti tindakan individu pekerja) dapat menghadirkan risiko tambahan.
Buruh Bangunan Implikasi Keselamatan Kerja
Insiden ini menjadi pengingat penting bagi pelaksanaan prosedur keselamatan kerja di sektor konstruksi, terutama pada pekerjaan di ketinggian. Beberapa catatan penting:
Berdasarkan penelitian, kecelakaan kerja “jatuh dari ketinggian” adalah salah satu penyebab utama kematian di sektor konstruksi.
Penggunaan APD seperti sabuk pengaman (full body harness), pengaman tepi, dan scaffolding adalah hal krusial yang harus diterapkan secara ketat.
Supervisi terus-menerus, koordinasi antar pekerja, dan prosedur “tidak sendiri bekerja” di ketinggian bisa mengurangi risiko.
Kepatuhan kontraktor/proyek terhadap regulasi K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) menjadi sangat penting untuk mencegah tragedi serupa.
Buruh Bangunan Langkah Selanjutnya dan Tindakan Polisi
Polres Gowa telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengevakuasi jenazah ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Selain itu, pihak proyek dan kontraktor diharapkan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan kerja, supervisi pekerja, dan perlengkapan di lapangan agar tidak terulang.
Kesimpulan
Kecelakaan yang menimpa seorang buruh bangunan di Gowa ini — yang jatuh dari lantai 5 proyek sekolah — menegaskan bahwa pekerjaan di ketinggian tetap penuh risiko jika aspek keselamatan tidak dijalankan dengan disiplin.
Meski lokasi pekerjaan diklaim “aman”, faktor manusia seperti bekerja sendirian atau melakukan aktivitas tambahan di luar jam kerja utama dapat memunculkan celah berbahaya.
Bagi industri konstruksi, kejadian ini menjadi panggilan untuk perkuat budaya keselamatan kerja: dari penggunaan APD yang benar, supervisi ketat, hingga penegakan prosedur bahwa tidak ada pekerja yang bekerja sendirian di ketinggian.






